PARA TALENT YANG MEMERANKAN MARWAH HARUS
RECOMENDED DARI AKU SEBAGAI WRITER SEKALIGUS BIOGRAFER, KARENA FILM INI KISAH
NYATA HIDUPKU:
STARLIGHT CINEMA
“SENANDUNG
CINTA ILLAHI”
(REAL STORY LIFE OF MARWAHQUROTAAYUN)
Marwah adalah
sesosok gadis yang naif juga sangat tomboy tapi cerdas yang terlahir pada
keluarga sederhana. Suasana hilir mudik keiatan dipagi hari yang sudah lumayan
ramai meskipun dipedesaan. Dengan sepeda mini Marwah mulai berangkat ke sekolah
menuju puncak, kiri kanan terlihat banyak pohon cemara, hehe seperti lagu
naik-naik ke puncak anak TK saja. Sekolah Marwah yang memang berada di puncak
pegunungan dengan sensasi jalan yang naik turun. Dengan gaya tomboinya secepat
kilat sampai kesekolah dan mulai mengikuti pelajaran. Meskipun tomboi tapi
berprestasi, semenjak kelas dua SMP mulai meraih prestasi menjadi juara 1
dikelas II B dan juara 2 berturut-turut pada catur wulan berikutnya. Akan
tetapi keadaan perekonomian keluarga Marwah mulai menurun saat bapaknya masuk
rumah sakit dan harus operasi. Ada seorang teman bapak Marwah yang lumayan
dekat dengan bapak, sudah selayaknya saudara. Dengan melihat kondisi
perekonomian yang tidak mencukupi, teman bapak Marwah bermaksud ingin
meringankan beban keluarga.
Setiap sore
Marwah menyapu halaman rumah serta menyirami tanaman perdu yang menghiasi teras
rumah. Melihat anak pak Mardi yang rajin, lalu pak Woko teman bapak Marwah
meminta untuk melihat nilai raport Marwah. Disitu terlihat nilai yang lumayan
bagus dan pernah meraih peringkat kelas 1 dan 2. Berawal dari situ pak Woko
tertarik ingin menolong keluarga Marwah dengan meringankan ikut membiayai
sekolah Marwah. Pak Mardi yang sedang duduk santai di samping pak Woko memanggil
anak perempuannya.
Pak
Woko
“Bujuklah
anakmu kalau mau, saya akan membantu meringankan beban keluargamu dengan
menyekolahkan Marwah di Purworejo ikut mertua saya.”
Pak
Mardi
“Ya
nanti saya coba membujuknya kalau mau, soalnya anaknya pendiam dan pemalu.”
Pak
Woko
“Ibu
mertuaku itu orangnya baik banget dan senang membantu menyekolahkan anak yang
tidak mampu dan berprestasi. Ya sudah begitu saja ya coba di bujuk semoga mau.
(Pak
Woko bepamitan pulang dan menyapa Marwah)
Pak
Woko
“Marwah,
pulang dulu ya.”
Marwah
“Iya
pak.”
Setelah
beberapa saat pak Woko berpamitan pulang, pak Mardi memanggil Marwah dan
membujuknya agar mau disekolahkan oleh mertua Pak Woko di Purworejo.
Pak
Mardi
“Marwah
kesini nak duduk sini.”
Marwah
“Iya
ada apa pak.”
Pak
Mardi
“Teman
bapak tadi mau membantu kita, mau bantu meringankan beban keluarga kita dengan
menyekolahkan kamu, tapi syaratnya kamu harus ikut tinggal bersama keluarga
mereka di Purworejo.”
Marwah
(Marwah
hanya terdiam tertunduk tak berani menjawab tidak mau, dengan melihat kondisi
bapaknya yang masih sakit)
Pak
Mardi
“Ya
sudah sana kebelakang bantu ibumu di dapur.”
Marwah
“Iya
pak.”
(Marwah
menuju belakang untuk membantu ibunya tapi sudah selesai masaknya dan ibunya
menyuruhnya segera mandi saja)
Marwah
“Bu
bantuin apa.”
Bu
Ros
“Sudah
selesai kok masaknya, kamu mandi saja. Teman bapakmu tadi sudah pulang Marwah.”
Marwah
“Sudah
bu.”
(sambil
menuju kamar mandi sambil mainan gayung marwah menangis)
Ibu
“Kok
jebar-jebur gak segera mandi kenapa tho kamu tu Marwah”
Marwah
(menjawab
sambil menangis)
“Bu
aku gak mau pindah sekolah di Purworejo, lagian tinggal setahun lagi aku
lulus.”
Ibu
Ros
“Tapi
kasihan bapakmu lagi sakit dan tak punya biaya sekolah lagi, pokoknya kamu
nurut nanti aku urus surat-surat pindahnya ke sekolah.”
Marwah
(mandi
sambil nangis)
Pagi harinya
Marwah berangkat sekolah seperti biasa dan mengikuti pelajaran seperti
biasanya, tidak menceritakan pada sesiapaun temannya kalau dirinya akan pindah
sekolah. Bahkan teman sebangkunya Cristina pun tak diberitahunya. Setelah
selesai pelajaran semua siswa menuju parkiran sepeda dan pulang kerumah
masing-masing. Seperti biasanya Marwah selalu berangkat dan pulang sekolah
sendirian. Dengan gaya tomboinya ketika jalanan sepi dan menurun Marwah
meluncur dengan sepeda mininya sambil bersedaku kedua tangannya tanpa memegangi
stang sepeda enjoy meluncur. Sampai ke bawah Marwah mulai memegangi stang
sepeda kembali dan ternyata dari belakang ada guru matematika menegur Marwah
sekedar memanggilnya saja. Tapi alangkah kagetnya Marwah takut ketahuan gurunya
dengan kebiasaanya berlepas tangan saat meluncur jalanan menurun.
Guru
matematika
“Marwah
ayo saya gandeng”
(Guru
matematika itu menyapa Marwah sambil basa-basi karena mungkin mengetahui
kebiasaan muridnya yang sangat berbahaya)
Marwah
“Enggak
pak, makasih.”
(dengan
tersenyum malu-malu Marwah menjawab tawaran gurunya)
Marwah yang
agak nyentrik dan tomboi itu memang memiliki kebiasaan yang tak lazim bagi
seorang anak perempuan. Mungkin juga itu terbentuk karena mengikuti ekstra
kurikuler bela diri “Tapak Suci” tapi juga ikut ekstrakurikuler menari juga,
sehingga karakter yang terbentuk dalam diri Marwah sedikit tomboi dan feminim
juga. Tapi menjelang kenaikan kelas 3 bu Ros dan Marwah datang kesekolah
mengurus kepindahan sekolahnya ke Purworejo. Marwah menunggu di luar ruangan
kantor guru sedangkan ibunya mengurus surat-surat kepindahan sekolah Marwah di
ruang kepala sekolah. Melihat Marwah duduk sendirian lalu guru BP sekolah
memanggilnya ke ruangan dan menanyai.
Guru
BP
“Marwah
kenapa kamu pindah sekolah, padahal kamu mulai berprestasi disini. Sungguh
sangat disayangkan jika kamu pindah sekolah.”
Marwah
“Saya
tidak tahu bu, ini semua kehendak kedua orang tua saya. Sebenarnya saya juga
enggan meninggalkan sekolah ini dan teman-teman semua.”
Guru
BP
“Ya
tidak mengapa jika itu sudah menjadi kehendak orang tuamu, baik-baik disana
jaga nama baik sekolah kita ya.”
Marwah
“Iya
bu, terimakasih atas bimbingannya selama ini.”
Guru
BP
“Iya
sama-sama.”
Marwah dan
ibunya segera pulang setelah selesai mengurus surat-surat kepindahan sekolah
Marwah ke Purworejo. Setelah sampai dirumah bapak dan ibu Marwah meyakinkan
lagi agar Marwah mau dan nurut diasuh oleh mertua teman bapaknya. Pada waktu
itu juga sedang digalakannya program Gerakan Orang Tua Asuh yang disingkat
GOTA. Pada sore harinya Marwah dan bapak ibunya bersama pak Woko menuju
Purworejo dengan naik bus jurusan Purworejo “Tetap Merdeka”. Pada senja
menjelang malam Marwah bersama orangtuanya dan pak Woko tiba dirumah kediaman
bu Annar yang akan menjadi orang tua asuh Marwah. Marwah terkagum melihat rumah
berpagar besi dengan dihiasi redupnya lampu taman yang menambah keanggunan
rumah mewah keluarga Pak Annar dan bu Annar. Pak Woko segera membuka pagar besi
yang tidak terkunci tersebut dan memencet bel. Bu Annar pun segera keluar
membukakan pintu.
Pak
Woko
“Assalamu’alaikum
bu dan bersalaman.”
Bu
Annar
“Wa’alaikumussalam
wr wb.”
Pak
Woko
“Ini
bu saya membawa Marwah beserta orangtuanya yang saya ceritakan kemarin, biar
mencoba tinggal seminggu dulu disini kalau kerasan biar ibu asuh disini.”
Bu
Annar
“Namanya
siapa nak.”
Marwah
“Marwah
bu.”
Bu
Annar
“Ya
begini rumah saya, jika nanti kamu kerasan tinggal disini bersama ibu dan
bapak, saya akan membiayai sekolah kamu dan semua keperluanmu tapi kamu harus tinggal
disini menemani kami dan bantu bersih-bersih rumah.
Bu
Ros
“Sebelumnya
terimakasih bu, semoga anak saya kerasan tinggal disini dan bisa bantu-bantu
meringankan pekerjaan ibu. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada bapak ibu
Annar yang berkenan mengasuh anak saya Marwah.”
Bu
Annar
“Sama-sama
bu saya akan mengasuh anak ibu dan akan saya anggap sebagai anak saya sendiri
dan saya sekolahkan sampai lulus SMP hingga kuliah nanti dengan syarat mau
tinggal disini menemani kami.”
Bu
Ros
“Tapi
anak saya ini agak pemalu dan pendiam bu, tapi rajin anaknya.
Bu
Annar
“Kami
akan mengasuh dan mendidiknya disini, kami juga kesepian hanya tinggal berdua
dirumah segedhe ini. Kedua anak saya sudah menikah dan tinggal diluar kota
sementara anak saya yang terakhir masih kuliah di Jogja.
Pak
Annar
“Marwah
tinggal disini bersama bapak dan ibu ya.”
Marwah
“InsyaAlloh
pak bu.”
Bu
Annar
“Sebelum
bapak dan ibu pulang kita makan dulu dan nanti marwah tetap tinggal disini ya,
coba tinggal disini seminggu dulu.”
Bu Annar dan Pak Annar mengajak pak Woko untuk mengajak Marwah dan kedua
orang tuanya ke ruang makan dan terlihat meja makan yang sudah tersedia
hidangan. Mereka semua makan dimeja makan dan setelah selesai makan kedua orang
tua Marwah menyerahkan ke bu Annar untuk diasuhnya dan mengantarkan Marwah ke
lantai atas menuju kamar yang akan ditempati Marwah. Setelah itu kedua orang tua Marwah berpamitan
pulang menuju Yogyakarta kembali.
Marwah mulai tinggal dirumah keluarga bu Annar, hatinya gelisah kangen
keluarga dirumah dan bapak ibunya. Meskipun tinggal dirumah mewah tapi Marwah
tak merasa bahagia, dia hanya ingat ibunya terus dan menangis sendirian
dikamar. Tapi seminggu berlalu Marwah sudah terbiasa dengan suasana tinggal
dikeluarga bu Annar. Bu Annar pun bertanya kepada Marwah setelah seminggu
tinggal bersama dikeluarganya.
Bu Annar
“Marwah, gimana kamu kerasan tidak tinggal disini bersama
kami.”
Marwah
“Ya semoga saya kerasan dan betah tinggal disini menemani
ibu dan bapak Annar.”
Bu Annar
“ Tinggal disini saja bersama kami dan kamu akan aku anggap
sebagai anakku sendiri dan anggaplah kami sebagai orangtuamu , tidak usah
sungkan.”
Marwah
“InsyaAlloh bu.”
Bu Annar
“Kalau mulai kerasan biar besok pagi diantar pak Annar
daftar ke sekolah. Kamu mau pilih SMPN 1 atau SMPN 2, keduanya SMP favourite di
kota Purworejo.
Marwah
“Saya terserah bapak dan ibu saja bagaimana baiknya.
Bu Annar
“Kalau SMP favourite nomer satu dikota ini ya SMP N 2
Purworejo letaknya agak jauh dari rumah,
ada didekat alun-alun sana nanti klo berangkat sekolah naik angkot atau
sekalian bareng bapak dan ibu ke kantor. Kalau SMP favourite ke dua yaitu SMP N
1 Purworejo, deket banget dari rumah jalan kaki aja klo berangkat sekolah.”
Marwah
“Saya pilih yang deket aja buk biar berangkatnya jalan kaki
aja.”
Bu Annar
“Ya sudah biar besok pagi diantar bapak daftar ke sekolah.”
Pagi-pagi setelah sarapan makan bersama dimeja makan, Marwah menuju
sekolah SMP N 1 Purworejo dengan dianter pak Annar. Marwah sudah berpakaian
seragam sekolah dengan rapi tapi lupa tidak memakai kaos kaki karena tertinggal
di Jogja.
Bu Annar
“Lho berpakaiannya sudah rapi tapi kok gak pakai kaus kaki
Marwah ?”
Marwah
“Kaos kakinya ketinggalan dirumah bu.”
Bu Annar
“Ya sudah berangkatlah tak apa, besok kita beli sekalian
ibu belanja dipasar.”
Marwah
“Bu berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum.”
(sambil bersalaman dan mencium tangan)
Bu Annar
“Wa’alaikumusssalam wr wb”
Pak Annar dan Marwah segera menuju sekolah jalan kaki ditrotoar jalan
menuju SMP N 1 Purworejo. Disana ada beberapa siswa yang sedang melakukan
daftar ulang sekolah. Pak Annar segera menuju ruang kepala sekolah mengurus
pendaftaran dan kepindahan sekolah Marwah, sedangkan Marwah duduk di kursi
depan ruang kepala sekolah. Disitu tertulis “Siswa tidak diperkenankan duduk
disini, hanya guru dan tamu saja.”
Dengan begitu para siswa yang melihat tahu bahwa yang sedang duduk
dikursi depan ruang kepala sekolah adalah calon siswa baru. Mereka tersenyum,
tapi sambil melihat kakinya yang tak memakai kaos kaki. Mungkin mereka berfikir
bahwa ada calon siswa baru yang agak nyentrik. Marwah pun tahu ada kejanggalan
pada diri Marwah yang tak mengenakan kaos kaki, tapi ya percaya diri saja nanti
kalau sudah masuk sekolah pasti lebih tertib menggunakan kaos kaki.
Seminnggu kemudian libur sekolah telah usai dan waktunya hari pertama
masuk sekolah bagi siswa baru dan kenaikan kelas. Disekolah lama Marwah berada
dikelas II B sehingga disinipun akan menempati kelas III B juga, akan tetapi
ruang kelas III B penuh dan hanya tinggal satu bangku diruang kelas III C.
Sehingga Marwah berada di kelas III C
dan mulai berkenalan dengan teman-teman di kelas. Ada beberapa anak
kelas III B yang datang ke kelas III C dan berkenalan serta berkata,
“seharusnya teman kita ini dikelas kami III B.” Dan teman-teman kelas III C
menjawabnya, biarlah Marwah berada di kelas III C saja dikelas III B kan sudah
penuh. Di kelas Marwah segera punya banyak teman yang baik-baik, semua temannya
baik akan tetapi yang paling akrab adalah teman sebangkunya dan 4 teman lainnya
yang duduk dibelakang meja Marwah. Marwah duduk dimeja paling depan dekat meja
guru kelas. Mungkin karena siswa baru sehingga sengaja ditempatkan paling depan
dekat guru agar lebih mudah penyesuaian belajarnya. Teman sebangku Marwah
adalah Veronica dan 4 sahabat lainnya adalah Novita Hidayani, Retno
Setiarsih,Feni Damayanti dan Endang Rimulatsih. Kelima sahabatnya ini sangat
baik dan saling support satu sama lain saat belajar disekolah dan saat belajar
kelompok.
INT.CLASS ROOM III C - DAY
Guru Matematika
"Selamat pagi semuanya ? Siapkan tugas yang bapak berikan minggu kemarin."
Semua siswa
"Baik pak."
Guru Matematika
"Ada yang tidak mengerjakan tugas yang saya berikan ?
(Pak Guru memperhatikan semua siswa dan memastikan siapa yang rajin mengerjakan tugas yang diberikan atau tidak)
Marwah
(Dengan raut wajah gelisah karena mendapati lembar halaman LKS yang akan dibahas ternyata belum dikerjakan)
"Maaf, pak saya belum mengerjakan tugas yang bapak berikan, tapi saya malah mengerjakan halaman berikutnya."
Guru Matematika
"Sama saja kamu tidak mengerjakan tugas yang saya berikan, sekarang silahkan kamu keluar dari kelas saya"
Marwah
(tetap diam ditempat duduk)
Guru matematika
(pak guru tidak sabar dan melempar sepotong kapur kecil ke arah Marwah )
"Ayo cepat keluar dari ruang kelas ini !"
Marwah
(keluar meninggalkan ruang kelas dan membawa buku LKS nya menuju ruang perpustakaan)
CUT TO
FADE TO BLACK
INT. PERPUSTAKAAN - DAY
Marwah
(duduk di ruang perpustakaan sambil membaca buku)
Guru penjaga Perpus
"Kok jam pelajaran ada di sini ?"
Marwah
"Iya bu, saya lupa tidak mengerjakan tugas."
Guru penjaga perpus
"Oh ya, yaudah tunggu disini sambil baca-baca buku sampai jam pelajaran selesai."
CUT TO
Meskipun Marwah pernah disuruh keluar dari kelas matematika karena kesalahannya tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, namun hal tersebut dijadikan sebuah pembelajaran dan instropeksi diri juga sebagai pemacu semangat belajar. Mawah senang mata pelajaran berhitung dengan rumus-rumus sehingga nilai ulangan harian dan nilai ujian pada raport mendapatkan nilai 9, ya lumayan baik. Nilai NEM Marwah saat kelulusan lumayan baik, namun Marwah memutuskan untuk kembali pulang dan melanjutkan sekolah di kota kelahirannya.
Marwah sudah terbiasa naik bus jurusan luar kota sendirian saat pulang ke Jogja, meskipun masih SMP.
Ext. Terminal Purworejo - day
Marwah naik angkot jurusan ke terminal Purworejo, dan setelah sampai nya disana segera mencari bus jurusan Jogjakarta dan naik ke dalam bus. Ada ibu
Marwah sudah terbiasa naik bus jurusan luar kota sendirian saat pulang ke Jogja, meskipun masih SMP.
Ext. Terminal Purworejo - day
Marwah naik angkot jurusan ke terminal Purworejo, dan setelah sampai nya disana segera mencari bus jurusan Jogjakarta dan naik ke dalam bus. Ada ibu
Marwah bersama teman-teman dikampungnya mendaftarkan sekolah di SMKK yaitu sekolah kejuruan. Marwah dan teman-teman mendaftarkan sekolah di SMKK Negeri 1 Sewon Bantul Yogyakarta. Dalam daftar pengumuman tersebut Marwah berada pada peringkat ke 2 nilai tertinggi dari semua calon siswa yang diterima. Marwah mengambil jurusan tata busana, sebenarnya tak ada satu jurusan pun di sekolah tersebut yang diinginkan Marwah, hanya terpaksa saja dari pada tidak sekolah. Sebenarnya jurusan yang diinginkan Marwah adalah di SMEA dengan jurusan administrasi atau akutansi,jurusan yang berbasis komputer.
Marwah yang kemarin saat di SLTP sudah berubah jadi feminim, mendadak jadi tomboy kembali, jadi gadis pemberontak dan memangkas rambutnya dengan potongan cepak seperti laki-laki. Di dukung dengan mata pelajaran olah raga basket, semakin sempurna sifat tomboy Marwah.
EXT. LAPANGAN BASKET - DAY
Semua siswa kelas I busana 1 mengikuti olahraga wajib disekolah tersebut, termasuk Marwah. Marwah pun sangat menyukai salah satu olah raga ini, saat melakukan drible bola Marwah sangat gesit menggiring bola ke basket lawan namun tidak begitu baik untuk shoot ke basket sehingga dibutuhkan kerja sama team yang kompak untuk memenangkan pertandingan.Mungkin saat itu Marwah sudah merasakan gejala astma, karena setiap setengah permainan Marwah merasakan dadanya sesak dan pernafasannya terengah-engah dan tidak kuat lagi melanjutkan pertandingan.
Marwah mulai berubah menjadi sedikit feminim kembali saat mata pelajaran agama Islam yang diwajibkan menggunakan busana muslim berjilbab. Marwah mulai memperbaiki sholat lima waktu dan belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an yang belum begitu lancar. Meskipun belum istiqomah menggunakan jilbab namun sudah lumayan berubah hijrah menjadi wanita muslimah, namanya juga masih dalam proses jika masih lepas pakai jilbab ya wajar, belum mengerti maksudnya memakai jilbab karena memang pengetahuan agamanya yang masih minim.
Saat mata pelajaran olah raga dan fashion show peragaan busana atau latihan catwalk, Marwah masih lepas jilbab. Semua siswa mengikuti latihan catwalk, latihan berjalan di atas stage peragaan busana.
INT. AULA - DAY
Pak Amin
"Selamat siang semuanya, ayo kita mulai saja latihan catwalk hari ini kita akan latihan fashion show untuk busana gala premiere."
(semua siswa sudah bersiap di atas stage dan sebagian di backstage dan masing-masing siswa harus menggunakan high heels)
Pada
malam hari seperti biasanya Marwah dikamar mendengarkan radio sambil belajar
bahasa Inggris, mempelajari buku Grammer practice for learning English.
Meskipun Marwah sudah tidak menempuh pendidikan namun tetap belajar sambil
mendengarkan tausyah Aa’ Gym di “Management Qolbu”. Dengan mendengarkan ceramah
Aa’ Gym diradio Marwah banyak sekali mendapatkan ilmu agama dan merasa lebih
tenang menjalani hidup. Marwah semakin menemukan jati dirinya yang sesungguhnya
dengan menjadi muslimah yang sabar dan lemah lembut. Marwah mencatat beberapa
point penting dari tausyah yang didengarkan melalui radio. Sekitar kurang lebih
jam 01.00 WIB Marwah segera tidur lagi karena sudah larut malam menjelang pagi.
INT.KAMAR MARWAH-MALAM
Marwah
(tidur nyenyak dan tak mendengar
adzan subuh, tiba-tiba tempat tidur terasa bergetar perlahan dan semakin kuat
getarannya mencapai kurang lebih 6 skala richter pada pukul 05.55 WIB, hari
Sabtu,27 Mei 2006, Marwah berlari kedepan bersama keluarga, kepala Marwah
tertimpa reruntuhan bangunan sehingga rambut Marwah berwarna putih oleh
reruntuhan).
Ibu
”Ya Alloh, gempa ini ayo lari keluar.”
Martin
(membopong bayinya yang masih berusia 5 bulan)
Bapak
”Marwah mana ayo keluar semua.”
(bapak diposisi paling belakang memastikan semua anggota
keluarga sudah keluar semua)
Semua anggota
keluarga sudah sampai didepan teras rumah tapi langkah untuk berlari semakin
berat dan limbung oleh getaran gempa yang semakin kuat dan dahsyat. Marwah dan
Martin juga Ibu sudah didepan, tapi bapak melihat teras rumah yang akan roboh
dan sekuat tenaga bapak berlari kedepan mendorong badan Marwah agar tidak
terkena robohan bangunan. Seketika gubrak dunia seperti sudah kiamat, keadaan
hening, gelap gulita, Marwah merasa tak ada kehidupan lagi. Perlahan Marwah
tersadar masih hidup berkumpul bersama keluarga.
EXT.DEPAN TERAS RUMAH-PAGI
Marwah
”Allohuakbar, Ya Alloh.”
(Marwah terbangun dari pingsan
sejenak dan melihat bapak tertimp beton
teras rumah, tubuhnya semakin bergetar dan bingung harus berbuat apa untuk
menyelamatkan bapaknya)
Martin
(bayi berumur 5 bulan
yang dibopongnya terlempar ke konblok, dan Martin segera berlari
mengambil bayinya yang menangis dan bayinya masih hidup tidak ada luka sedikitpun)
Bapak
”Allohuakbar, Allohuakbar, Allohuakbar. “
(sambil menahan rasa sakit setelah sadar kaki bapak
tertimpa bangunan)
Setelah para
tetangga menolong dan berhasil mengeluarkan bapak dari reruntuhan bangunan dan segera
melarikan ke rumah sakit.
EXT.DEPAN TERAS RUMAH
Marwah
(Membopong bapak
untuk dievakuasi sebelum dilarikan kerumah sakit, membopong pas kaki yang patah
tertimpa beton, tubuh Marwah gemeteran melihat darah dan keadaan kaki yang
patah)
Tetangga
“Ayo kita bawa
kerumah sakit segera”.
(para tetangga yang
membantu Marwah membopong bapak, menaikkan ke mobil bak terbuka dan segera
dilarikan kerumah sakit Bethesda, hanya adik laki-laki dan kakak perempuan
bapak yang mengantar kerumah sakit)
Marwah
“Bapak dibawa kerumah
sakit dulu nanti aku menyusul”.
(Marwah bingung mau
ikut mengantar kerumah sakit tapi cuma mengenakan daster untuk tidur yang transparan)
Marwah
memberanikan diri untuk masuk kerumah yang sudah hampir runtuh,berganti pakaian
sambil membawa uang yang tersisa didompet untuk mengurus biaya administrasi
rumah sakit. Karena Marwah anak yang paling besar dan sudah bekerja jadi semua
menjadi tanggung jawab Marwah. Marwah
tidak tahu kalau biaya rumah sakit pada saat bencana gratis dan ditanggung oleh
pemerintah. Setelah berganti pakaian Marwah bermaksud mencari saudara atau
tetangga yang mau mengantarkan ke rumah sakit menyusul bapak, tapi tiba-tiba
para warga berlarian dan berteriak “ada sunami”.
EXT.DISAMPING RERUNTUHAN BANGUNAN
RUMAH-PAGI
Marwah
(tengak-tengok
mencari seseorang untuk mengantarkannya kerumah sakit menyusul bapak)
Para warga
“Sunami, sunami,
sunami,.......”
(para warga berlarian
menuju gunung, kedataran yang lebih tinggi)
Marwah
(bingung tetap diam
ditempat, mau tetap menyusul bapak atau ikut lari ke gunung)
Mbak Parjiyem
“Ayo kita lari ke
gunung, ada sunami.”
Marwah
“Tapi aku mau
menyusul bapakku kerumah sakit”.
Ani
“Ayo mbak kita ikut
lari ke gunung saja, nanti klo ada sunami gimana.”
Marwah
(akhirnya Marwah ikut
lari ke gunung tapi fikirannya tetap kalut ingin menyusul bapak kerumah sakit)
Setelah
beberapa menit dan ternyata tidak terjadi apa-apa, Marwah memutuskan untuk
turun gunung dan ingin menyusul bapak ke rumah sakit. Marwah mencari seseorang
untuk mengantarkan kerumah sakit, tapi tidak ada kendaraan karena semua
kendaraan tertimbun reruntuhan bangunan.
FADE
TO BLACK
INT.RUMAH SAKIT BETHESDA-PAGI
Adik laki-laki Marwah
(memangku bapak yang
dalam perawatan)
Bapak
(menahan rasa sakit
dan menghembuskan nafas terakhir dipangkuan adik laki-laki Marwah di rumah
sakit Bethesda)
FADE TO BLACK
Tapi apa boleh
buat jika Alloh sudah berkehendak nyawa bapak tidak tertolong dan meninggal
dunia pada pukul 10.00 WIB. Hari itu juga jenazah dikuburkan dengan layak
seperti jenazah pada umumnya dimandikan dan dikafani juga disholatkan.
EXT.HALAMAN RUMAH-PAGI
Marwah
“Mas, anterin saya
kerumah sakit menyusul bapakku.”
Tetangga Marwah
“Sini tak beritahu
tapi tenang ya.”
Marwah
“Ada apa.”
Tetangga Marwah
“Bapakmu sudah tenang
menghadap Illahi.”
Marwah
“Inna lillahi wainna
illaihi raji’un,”
(perlahan Marwah
terisak menangis dan air mata tak terbendung lagi)
Tetangga
“Tenang mbak Marwah,
bapakmu sudah tenang, ditunggu saja segera akan dibawa pulang jenazahnya”.
Para tetangga
segera mempersiapkan air untuk memandikan jenazah, dan Marwah pun ikut menimba
air mempersiapkan untuk memandikan jenazah bapak. Tapi beberapa tetangga
menyarankan untuk duduk saja sambil menunggu kedatangan jenazah bapak. Marwah
duduk termenung menunggu kedatangan jenazah bapak dan menyesal yang sangat
dalam tidak bisa mendampingi bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Sejenak
terdengar mobil ambulance datang membawa jenazah bapak. Para tetangga segera
menyambut kedatangan jenazah dan mengangkatnya untuk diletakkan dipembaringan
sebelum dimandikan.
Marwah
“Bapak........”
(berlari menghampiri
jenazah bapak sambil menangis dan ingin membuka kain yang menutup wajah jenazah
bapak, tapi ada seorang saudara Marwah yang tidak membolehkan Marwah membuka
kain tersebut karena Marwah menangis)
Mas Ris
“Ayo ikut aku, gak
usah melihat bapakmu, bapakmu sudah tenang”.
(sambil membawa
Marwah ke keluarga yang lainnya berkumpul)
Marwah
(tetap menangis
berlinangan air mata, kepalanya semakin terasa berat dan gelap menahan
kesedihan dan penyesalan yang dalam)
FADE TO BLACK
Jenazah segera
dimandikan dan dikafani, setelah itu adik laki-laki Marwah beserta beberapa
warga menyolatkan jenazah lalu menguburkan jenazah bapak dipemakaman warga
kampung Tirto. Setelah selesai pemakaman getaran gempa masih terasa
berkali-kali dan berita sunami masih terdengar yang membuat bingung para warga.
Malam harinya Marwah bersama ibu dan adik perempuannya juga bayi berumur 5
bulan naik kegunung untuk menyelamatkan diri. Pagi harinya bapak Marwah dikubur
dan malam harinya Marwah beserta keluarga dan beberapa warga tidur di atas
gunung dekat bapak Marwah dikubur.Dengan hiruk pikuk isu sunami, bahkan Marwah
lupa kalau bapaknya sudah meninggal danbaru saja dikubur.
Marwah
“Bu,
lha bapak kemana kok gak bersama kita”.
Ibu
“Kamu
lupa ya, bapakmu sudah meninggal tadi pagi sudah dikubur.”
Marwah
“Oh
iya,Ya Alloh, cobaan apa ini”.
Pagi harinya
para warga yang mengungsi ke gunung diminta untuk turun dan mendirikan tenda di
tanah lapang sekitar rumah, agar pemerintah mudah untuk mengecek dan memberikan
bantuan. Pagi hari itu Marwah datang kepemakaman bapak.
Marwah
“Bu,
aku mau lihat kuburan bapak”
Ibu
“Ya
sana, Ani tolong ditemani mbak Marwah ke kuburan bapaknya”.
Ani
“Ya,
mbah Ros, Ayo mbak Marwah tak temeni klo mau lihat kuburan bapakmu.”
Marwah dan Ani
segera menuju ke pemakaman tempat jenazah bapak Marwah kemarin dikuburkan. Hari
itu Marwah sudah tidak menangis lagi, sudah mengikhlaskan bapak menghadap
Illahi dan mendoakan semoga khusnul khotimah, aamiin.
Setelah
beberapa hari semua warga tidur ditenda dan akomodasi kebutuhan hidup
bergantung dari bantuan pemerintah dan masyarakat luar kota yang peduli bencana.
Setelah beberapa minggu tidur di tenda, ABRI bergerak membantu warga
membereskan dan membersihkan reruntuhan bangunan serta membuatkan gubuk kecil
untuk tinggal sementara dengan menggunakan seng dan triplek bantuan dari luar
negeri. Rumah keluarga Marwah yang begitu luas dan besar masih berdiri pada
bangunan inti, bagian teras dan belakang sudah roboh semua. Meskipun bangunan
masih berdiri tapi sudah rapuh tak dapat dihuni lagi, semua dinding sudah retak
dan hancur. Bangunan masih berdiri karena ditopang kuat oleh usuk yang terbuat
dari bambu yang sangat kuat. Dengan begitu mau tidak mau bangunan harus
dirobohkan, karena sangat membahayakan. Saat Marwah dan keluarga tinggal
digubuk kecil yang dibangun oleh para relawan, keluarga orang tua asuh Marwah
datang menengok keadaan keluarga Marwah. Keluarga Pak Annar dan Bu Annar
mengetahui berita bencana gempa melalui siaran langsung di televisi, dan disitu
tertera para korban bencana. Salah satu anggota keluarga Bu Annar ada yang
membaca bahwa nama bapak Marwah tercantum disitu. Beberapa hari kemudian
keluarga Bu Annar di Purworejo datang ke Bantul menengok keluarga Marwah. Bu
Annar dan keluarga datang dengan mobil
kijang yang dipenuhi dengan bahan makanan berupa beras dan kebutuhan lainnya.
Bu Annar :”Assalamu’alaikum, Marwah mana ya.”
Marwah :”Wa’alaikumussalam, ini saya bu.’
Bu Annar :”Gimana keadaanmu Marwah.”
Marwah :”Alhamdulillah sehat bu, tapi ya begini keadaan
rumah.”
Bu Annar :”Ya saya
sudah tahu, ini saya bawakan beras dan kebutuhan lainnya. Ada 2 karung beras, 2
kardus sarimi, dan kebutuhan lain semuanya dua bagian. Silahkan yang satu
bagian untuk keluargamu dan yang satu bagian lagi untuk dibagikan diposko”.
Marwah :”Iya bu,
nanti yang sebagian bantuan ini akan saya serahkan ke posko. Terimakasih banget
ya bu sudah datang menengok Marwah dan malah merepotkanbawa bantuan segala.”
Bu Annar :”Gak
apa-apa Marwah sudah jadi kewajiban Ibu untuk saling berbagi dan menolong.”
Marwah :”Semoga
kebaikan ibu Alloh yang membalasnya dan menjadi berkah, aamiin”.
Bu Annar :”Marwah ibu
langsung pamitan pulang, ibu sudah lega bisa melihat keadaanmu baik-baik saja.
Ini ibu langsung mau mampir ke Sleman nengok rumah yang ada di Sleman.”
Marwah :”Ya terima
kasih bu.”
BuAnnar :”Wassalamu’alaikum.”
Marwah :”Wa’alaikumussalam
warahmatullah wabarakatuh.”
Marwah anak
pertama dari tiga bersaudara dan kedua adiknya sudah memiliki anak, saudara
yang kedua memiliki tiga anak dan yang bungsu memiliki dua anak perempuan
semua, sehingga Marwah memiliki 5 keponakan dari kedua adiknya. Setelah
bertahun-tahun tidak menempuh pendidikan dan lebih asyik bekerja ke luar negeri
dan di kota metropolitan akhirnya Marwah pulang ke Jogja dan melanjutkan untuk
study lagi. Dari dahulu Marwah pengen sekali capable berbahasa Inggris,
sehingga Marwah memutuskan untuk kuliah dengan jurusan Bahasa Inggris yang
dipadu dengan sinematografi.
1. TALENT
MARWAH USIA SD UP TO SMP OLEH ZAHRA, TOMBOY NYA DAPET.
2. TALENT
MARWAH USIA SMK UP TO 19 TAHUN DI MALAYSIA, MARWAH CANTIK DAN FEMINIM
3. TALENT
MARWAH USIA 20 UP TO 23 TAHUN DI BEKASI, TALENT AKTUAL USIA 20 ATAU 23 TAHUN
TIDAK BERHIJAB, RAMBUT SEPUNGGUNG.
4.
10
TAHUN KEMUDIAN TALENT MARWAH USIA 30 UP TO 36 TAHUN, STELAH MENJADI MAHASISWI
DIPERANKAN OLEH SAYA SENDIRI MARWANTI MARWAHQUROTAAYUN.
5. MARWAH
REALY MARWANTI MARWAHQUROTAAYUN, USIA 36 TAHUN SEDANG MENCARI PEKERJAAN DI
SEKOLAH SEBAGAI STAFF TATA USAHA DI SEKOLAH SAMBIL MENGAJAR LES BAHASA INGGRIS.
PENGEN NIKAH DAN
DILAMAR SEORANG LAKI-LAKI YANG CAKEP LUAR DALAM (KULIT PUTIH BERSIH, TINGGI
GAGAH) BAIK AKHLAKNYA, AGAMANYA DAN BERPENDIDIKAN, BERTANGGUNGJAWAB MENAFKAHI
LAHIR BATIN SEBAGAI SUAMI, SAYANG, PERHATIAN DAN JUJUR.
SCREENPLAY FILM INI HANYA SEBAGIAN BELUM SELESAI