Total Tayangan Halaman

Pengikut

Rabu, 23 Agustus 2017

UP AND DOWN “SENANDUNG CINTA ILLAHI”



PARA TALENT YANG MEMERANKAN MARWAH HARUS RECOMENDED DARI AKU SEBAGAI WRITER SEKALIGUS BIOGRAFER, KARENA FILM INI KISAH NYATA HIDUPKU:
STARLIGHT CINEMA
“SENANDUNG CINTA ILLAHI”
(REAL STORY LIFE OF MARWAHQUROTAAYUN)

Marwah adalah sesosok gadis yang naif juga sangat tomboy tapi cerdas yang terlahir pada keluarga sederhana. Suasana hilir mudik keiatan dipagi hari yang sudah lumayan ramai meskipun dipedesaan. Dengan sepeda mini Marwah mulai berangkat ke sekolah menuju puncak, kiri kanan terlihat banyak pohon cemara, hehe seperti lagu naik-naik ke puncak anak TK saja. Sekolah Marwah yang memang berada di puncak pegunungan dengan sensasi jalan yang naik turun. Dengan gaya tomboinya secepat kilat sampai kesekolah dan mulai mengikuti pelajaran. Meskipun tomboi tapi berprestasi, semenjak kelas dua SMP mulai meraih prestasi menjadi juara 1 dikelas II B dan juara 2 berturut-turut pada catur wulan berikutnya. Akan tetapi keadaan perekonomian keluarga Marwah mulai menurun saat bapaknya masuk rumah sakit dan harus operasi. Ada seorang teman bapak Marwah yang lumayan dekat dengan bapak, sudah selayaknya saudara. Dengan melihat kondisi perekonomian yang tidak mencukupi, teman bapak Marwah bermaksud ingin meringankan beban keluarga.
Setiap sore Marwah menyapu halaman rumah serta menyirami tanaman perdu yang menghiasi teras rumah. Melihat anak pak Mardi yang rajin, lalu pak Woko teman bapak Marwah meminta untuk melihat nilai raport Marwah. Disitu terlihat nilai yang lumayan bagus dan pernah meraih peringkat kelas 1 dan 2. Berawal dari situ pak Woko tertarik ingin menolong keluarga Marwah dengan meringankan ikut membiayai sekolah Marwah. Pak Mardi yang sedang duduk santai di samping pak Woko memanggil anak perempuannya.
Pak Woko
“Bujuklah anakmu kalau mau, saya akan membantu meringankan beban keluargamu dengan menyekolahkan Marwah di Purworejo ikut mertua saya.”
Pak Mardi
“Ya nanti saya coba membujuknya kalau mau, soalnya anaknya pendiam dan pemalu.”
Pak Woko
“Ibu mertuaku itu orangnya baik banget dan senang membantu menyekolahkan anak yang tidak mampu dan berprestasi. Ya sudah begitu saja ya coba di bujuk semoga mau.
(Pak Woko bepamitan pulang dan menyapa Marwah)
Pak Woko
“Marwah, pulang dulu ya.”

Marwah
“Iya pak.”
Setelah beberapa saat pak Woko berpamitan pulang, pak Mardi memanggil Marwah dan membujuknya agar mau disekolahkan oleh mertua Pak Woko di Purworejo.
Pak Mardi
“Marwah kesini nak duduk sini.”
Marwah
“Iya ada apa pak.”
Pak Mardi
“Teman bapak tadi mau membantu kita, mau bantu meringankan beban keluarga kita dengan menyekolahkan kamu, tapi syaratnya kamu harus ikut tinggal bersama keluarga mereka di Purworejo.”
Marwah
(Marwah hanya terdiam tertunduk tak berani menjawab tidak mau, dengan melihat kondisi bapaknya yang masih sakit)
Pak Mardi
“Ya sudah sana kebelakang bantu ibumu di dapur.”
Marwah
“Iya pak.”
(Marwah menuju belakang untuk membantu ibunya tapi sudah selesai masaknya dan ibunya menyuruhnya segera mandi saja)
Marwah
“Bu bantuin apa.”
Bu Ros
“Sudah selesai kok masaknya, kamu mandi saja. Teman bapakmu tadi sudah pulang Marwah.”
Marwah
“Sudah bu.”
(sambil menuju kamar mandi sambil mainan gayung marwah menangis)
Ibu
“Kok jebar-jebur gak segera mandi kenapa tho kamu tu Marwah”
Marwah
(menjawab sambil menangis)
“Bu aku gak mau pindah sekolah di Purworejo, lagian tinggal setahun lagi aku lulus.”
Ibu Ros
“Tapi kasihan bapakmu lagi sakit dan tak punya biaya sekolah lagi, pokoknya kamu nurut nanti aku urus surat-surat pindahnya ke sekolah.”
Marwah
(mandi sambil nangis)
Pagi harinya Marwah berangkat sekolah seperti biasa dan mengikuti pelajaran seperti biasanya, tidak menceritakan pada sesiapaun temannya kalau dirinya akan pindah sekolah. Bahkan teman sebangkunya Cristina pun tak diberitahunya. Setelah selesai pelajaran semua siswa menuju parkiran sepeda dan pulang kerumah masing-masing. Seperti biasanya Marwah selalu berangkat dan pulang sekolah sendirian. Dengan gaya tomboinya ketika jalanan sepi dan menurun Marwah meluncur dengan sepeda mininya sambil bersedaku kedua tangannya tanpa memegangi stang sepeda enjoy meluncur. Sampai ke bawah Marwah mulai memegangi stang sepeda kembali dan ternyata dari belakang ada guru matematika menegur Marwah sekedar memanggilnya saja. Tapi alangkah kagetnya Marwah takut ketahuan gurunya dengan kebiasaanya berlepas tangan saat meluncur jalanan menurun.
Guru matematika
“Marwah ayo saya gandeng”
(Guru matematika itu menyapa Marwah sambil basa-basi karena mungkin mengetahui kebiasaan muridnya yang sangat berbahaya)
Marwah
“Enggak pak, makasih.”
(dengan tersenyum malu-malu Marwah menjawab tawaran gurunya)
Marwah yang agak nyentrik dan tomboi itu memang memiliki kebiasaan yang tak lazim bagi seorang anak perempuan. Mungkin juga itu terbentuk karena mengikuti ekstra kurikuler bela diri “Tapak Suci” tapi juga ikut ekstrakurikuler menari juga, sehingga karakter yang terbentuk dalam diri Marwah sedikit tomboi dan feminim juga. Tapi menjelang kenaikan kelas 3 bu Ros dan Marwah datang kesekolah mengurus kepindahan sekolahnya ke Purworejo. Marwah menunggu di luar ruangan kantor guru sedangkan ibunya mengurus surat-surat kepindahan sekolah Marwah di ruang kepala sekolah. Melihat Marwah duduk sendirian lalu guru BP sekolah memanggilnya ke ruangan dan menanyai.
Guru BP
“Marwah kenapa kamu pindah sekolah, padahal kamu mulai berprestasi disini. Sungguh sangat disayangkan jika kamu pindah sekolah.”
Marwah
“Saya tidak tahu bu, ini semua kehendak kedua orang tua saya. Sebenarnya saya juga enggan meninggalkan sekolah ini dan teman-teman semua.”
Guru BP
“Ya tidak mengapa jika itu sudah menjadi kehendak orang tuamu, baik-baik disana jaga nama baik sekolah kita ya.”
Marwah
“Iya bu, terimakasih atas bimbingannya selama ini.”
Guru BP
“Iya sama-sama.”

Marwah dan ibunya segera pulang setelah selesai mengurus surat-surat kepindahan sekolah Marwah ke Purworejo. Setelah sampai dirumah bapak dan ibu Marwah meyakinkan lagi agar Marwah mau dan nurut diasuh oleh mertua teman bapaknya. Pada waktu itu juga sedang digalakannya program Gerakan Orang Tua Asuh yang disingkat GOTA. Pada sore harinya Marwah dan bapak ibunya bersama pak Woko menuju Purworejo dengan naik bus jurusan Purworejo “Tetap Merdeka”. Pada senja menjelang malam Marwah bersama orangtuanya dan pak Woko tiba dirumah kediaman bu Annar yang akan menjadi orang tua asuh Marwah. Marwah terkagum melihat rumah berpagar besi dengan dihiasi redupnya lampu taman yang menambah keanggunan rumah mewah keluarga Pak Annar dan bu Annar. Pak Woko segera membuka pagar besi yang tidak terkunci tersebut dan memencet bel. Bu Annar pun segera keluar membukakan pintu.
Pak Woko
“Assalamu’alaikum bu dan bersalaman.”
Bu Annar
“Wa’alaikumussalam wr wb.”
Pak Woko
“Ini bu saya membawa Marwah beserta orangtuanya yang saya ceritakan kemarin, biar mencoba tinggal seminggu dulu disini kalau kerasan biar ibu asuh disini.”
Bu Annar
“Namanya siapa nak.”
Marwah
“Marwah bu.”
Bu Annar
“Ya begini rumah saya, jika nanti kamu kerasan tinggal disini bersama ibu dan bapak, saya akan membiayai sekolah kamu dan semua keperluanmu tapi kamu harus tinggal disini menemani kami dan bantu bersih-bersih rumah.
Bu Ros
“Sebelumnya terimakasih bu, semoga anak saya kerasan tinggal disini dan bisa bantu-bantu meringankan pekerjaan ibu. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada bapak ibu Annar yang berkenan mengasuh anak saya Marwah.”
Bu Annar
“Sama-sama bu saya akan mengasuh anak ibu dan akan saya anggap sebagai anak saya sendiri dan saya sekolahkan sampai lulus SMP hingga kuliah nanti dengan syarat mau tinggal disini menemani kami.”
Bu Ros
“Tapi anak saya ini agak pemalu dan pendiam bu, tapi rajin anaknya.
Bu Annar
“Kami akan mengasuh dan mendidiknya disini, kami juga kesepian hanya tinggal berdua dirumah segedhe ini. Kedua anak saya sudah menikah dan tinggal diluar kota sementara anak saya yang terakhir masih kuliah di Jogja.
Pak Annar
“Marwah tinggal disini bersama bapak dan ibu ya.”
Marwah
“InsyaAlloh pak bu.”
Bu Annar
“Sebelum bapak dan ibu pulang kita makan dulu dan nanti marwah tetap tinggal disini ya, coba tinggal disini seminggu dulu.”

Bu Annar dan Pak Annar mengajak pak Woko untuk mengajak Marwah dan kedua orang tuanya ke ruang makan dan terlihat meja makan yang sudah tersedia hidangan. Mereka semua makan dimeja makan dan setelah selesai makan kedua orang tua Marwah menyerahkan ke bu Annar untuk diasuhnya dan mengantarkan Marwah ke lantai atas menuju kamar yang akan ditempati Marwah.  Setelah itu kedua orang tua Marwah berpamitan pulang  menuju Yogyakarta kembali.
Marwah mulai tinggal dirumah keluarga bu Annar, hatinya gelisah kangen keluarga dirumah dan bapak ibunya. Meskipun tinggal dirumah mewah tapi Marwah tak merasa bahagia, dia hanya ingat ibunya terus dan menangis sendirian dikamar. Tapi seminggu berlalu Marwah sudah terbiasa dengan suasana tinggal dikeluarga bu Annar. Bu Annar pun bertanya kepada Marwah setelah seminggu tinggal bersama dikeluarganya.
Bu Annar
“Marwah, gimana kamu kerasan tidak tinggal disini bersama kami.”
Marwah
“Ya semoga saya kerasan dan betah tinggal disini menemani ibu dan bapak Annar.”
Bu Annar
“ Tinggal disini saja bersama kami dan kamu akan aku anggap sebagai anakku sendiri dan anggaplah kami sebagai orangtuamu , tidak usah sungkan.”

Marwah
“InsyaAlloh bu.”
Bu Annar
“Kalau mulai kerasan biar besok pagi diantar pak Annar daftar ke sekolah. Kamu mau pilih SMPN 1 atau SMPN 2, keduanya SMP favourite di kota Purworejo.
Marwah
“Saya terserah bapak dan ibu saja bagaimana baiknya.
Bu Annar
“Kalau SMP favourite nomer satu dikota ini ya SMP N 2 Purworejo  letaknya agak jauh dari rumah, ada didekat alun-alun sana nanti klo berangkat sekolah naik angkot atau sekalian bareng bapak dan ibu ke kantor. Kalau SMP favourite ke dua yaitu SMP N 1 Purworejo, deket banget dari rumah jalan kaki aja klo berangkat sekolah.”
Marwah
“Saya pilih yang deket aja buk biar berangkatnya jalan kaki aja.”
Bu Annar
“Ya sudah biar besok pagi diantar bapak daftar ke sekolah.”

Pagi-pagi setelah sarapan makan bersama dimeja makan, Marwah menuju sekolah SMP N 1 Purworejo dengan dianter pak Annar. Marwah sudah berpakaian seragam sekolah dengan rapi tapi lupa tidak memakai kaos kaki karena tertinggal di Jogja.
Bu Annar
“Lho berpakaiannya sudah rapi tapi kok gak pakai kaus kaki Marwah ?”
Marwah
“Kaos kakinya ketinggalan dirumah bu.”
Bu Annar
“Ya sudah berangkatlah tak apa, besok kita beli sekalian ibu belanja dipasar.”
Marwah
“Bu berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum.”
(sambil bersalaman dan mencium tangan)

Bu Annar
“Wa’alaikumusssalam wr wb”

Pak Annar dan Marwah segera menuju sekolah jalan kaki ditrotoar jalan menuju SMP N 1 Purworejo. Disana ada beberapa siswa yang sedang melakukan daftar ulang sekolah. Pak Annar segera menuju ruang kepala sekolah mengurus pendaftaran dan kepindahan sekolah Marwah, sedangkan Marwah duduk di kursi depan ruang kepala sekolah. Disitu tertulis “Siswa tidak diperkenankan duduk disini, hanya guru dan tamu saja.”
Dengan begitu para siswa yang melihat tahu bahwa yang sedang duduk dikursi depan ruang kepala sekolah adalah calon siswa baru. Mereka tersenyum, tapi sambil melihat kakinya yang tak memakai kaos kaki. Mungkin mereka berfikir bahwa ada calon siswa baru yang agak nyentrik. Marwah pun tahu ada kejanggalan pada diri Marwah yang tak mengenakan kaos kaki, tapi ya percaya diri saja nanti kalau sudah masuk sekolah pasti lebih tertib menggunakan kaos kaki.
Seminnggu kemudian libur sekolah telah usai dan waktunya hari pertama masuk sekolah bagi siswa baru dan kenaikan kelas. Disekolah lama Marwah berada dikelas II B sehingga disinipun akan menempati kelas III B juga, akan tetapi ruang kelas III B penuh dan hanya tinggal satu bangku diruang kelas III C. Sehingga Marwah berada di kelas III C  dan mulai berkenalan dengan teman-teman di kelas. Ada beberapa anak kelas III B yang datang ke kelas III C dan berkenalan serta berkata, “seharusnya teman kita ini dikelas kami III B.” Dan teman-teman kelas III C menjawabnya, biarlah Marwah berada di kelas III C saja dikelas III B kan sudah penuh. Di kelas Marwah segera punya banyak teman yang baik-baik, semua temannya baik akan tetapi yang paling akrab adalah teman sebangkunya dan 4 teman lainnya yang duduk dibelakang meja Marwah. Marwah duduk dimeja paling depan dekat meja guru kelas. Mungkin karena siswa baru sehingga sengaja ditempatkan paling depan dekat guru agar lebih mudah penyesuaian belajarnya. Teman sebangku Marwah adalah Veronica dan 4 sahabat lainnya adalah Novita Hidayani, Retno Setiarsih,Feni Damayanti dan Endang Rimulatsih. Kelima sahabatnya ini sangat baik dan saling support satu sama lain saat belajar disekolah dan saat belajar kelompok.

 INT.CLASS ROOM III C - DAY
Guru Matematika
"Selamat pagi semuanya ? Siapkan tugas yang bapak berikan  minggu kemarin."
Semua siswa
"Baik pak."
Guru Matematika
"Ada yang tidak mengerjakan tugas yang saya berikan ?
(Pak Guru memperhatikan semua siswa dan memastikan siapa yang rajin mengerjakan tugas yang diberikan atau tidak)
Marwah
(Dengan raut wajah gelisah karena mendapati lembar halaman  LKS yang akan dibahas ternyata belum dikerjakan)
"Maaf, pak saya belum mengerjakan tugas yang bapak berikan, tapi saya malah mengerjakan halaman berikutnya."
Guru Matematika
"Sama saja kamu tidak mengerjakan tugas yang saya berikan, sekarang silahkan kamu keluar dari kelas saya"
Marwah
(tetap diam ditempat duduk)
Guru matematika
(pak guru tidak sabar dan melempar sepotong kapur kecil ke arah Marwah )
"Ayo cepat keluar dari ruang kelas ini !"
Marwah
(keluar meninggalkan ruang kelas dan membawa buku LKS nya menuju ruang perpustakaan)
CUT TO
FADE TO BLACK

INT. PERPUSTAKAAN - DAY 

Marwah
(duduk di ruang perpustakaan sambil membaca buku)
Guru penjaga Perpus
"Kok jam pelajaran ada di sini ?"
Marwah
"Iya bu, saya lupa tidak mengerjakan tugas."
 Guru penjaga perpus
"Oh ya, yaudah tunggu disini sambil baca-baca buku sampai jam pelajaran selesai."

CUT TO

Meskipun Marwah pernah disuruh keluar dari kelas matematika karena kesalahannya tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, namun hal tersebut dijadikan sebuah pembelajaran dan instropeksi diri juga sebagai pemacu semangat belajar. Mawah senang mata pelajaran berhitung dengan rumus-rumus sehingga nilai ulangan harian dan nilai ujian pada raport mendapatkan nilai 9, ya lumayan baik. Nilai NEM Marwah saat kelulusan lumayan baik, namun Marwah memutuskan untuk kembali pulang dan melanjutkan sekolah di kota kelahirannya.
Marwah sudah terbiasa naik bus jurusan luar kota sendirian saat pulang ke Jogja, meskipun masih SMP.
Ext. Terminal Purworejo - day
Marwah naik angkot jurusan ke terminal Purworejo, dan setelah sampai nya disana segera mencari bus jurusan Jogjakarta dan naik ke dalam bus. Ada ibu
Marwah bersama teman-teman dikampungnya mendaftarkan sekolah di SMKK yaitu sekolah kejuruan. Marwah dan teman-teman mendaftarkan sekolah di SMKK Negeri 1 Sewon Bantul Yogyakarta. Dalam daftar pengumuman tersebut Marwah berada pada peringkat ke 2 nilai tertinggi dari semua calon siswa yang diterima. Marwah mengambil jurusan tata busana, sebenarnya tak ada satu jurusan pun di sekolah tersebut yang diinginkan Marwah, hanya terpaksa saja dari pada tidak sekolah. Sebenarnya jurusan yang diinginkan Marwah adalah di SMEA dengan jurusan administrasi atau akutansi,jurusan yang berbasis komputer.
Marwah yang kemarin saat di SLTP sudah berubah jadi feminim, mendadak jadi tomboy kembali, jadi gadis pemberontak dan memangkas rambutnya dengan potongan cepak seperti laki-laki. Di dukung dengan mata pelajaran olah raga basket, semakin sempurna sifat tomboy Marwah.

EXT. LAPANGAN BASKET - DAY

Semua siswa kelas I busana  1 mengikuti olahraga wajib disekolah tersebut, termasuk Marwah. Marwah pun sangat menyukai salah satu olah raga ini, saat melakukan drible bola Marwah sangat gesit menggiring bola ke basket lawan namun tidak begitu baik untuk shoot ke basket sehingga dibutuhkan kerja sama team yang kompak untuk memenangkan pertandingan.Mungkin saat itu Marwah sudah merasakan gejala astma, karena setiap setengah permainan Marwah merasakan dadanya sesak dan pernafasannya terengah-engah dan tidak kuat lagi melanjutkan pertandingan.
Marwah mulai berubah menjadi sedikit feminim kembali saat mata pelajaran agama Islam yang diwajibkan menggunakan busana muslim berjilbab. Marwah mulai memperbaiki sholat lima waktu dan belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an yang belum begitu lancar. Meskipun belum istiqomah menggunakan jilbab namun sudah lumayan berubah hijrah menjadi wanita muslimah, namanya juga masih dalam proses jika masih lepas pakai jilbab ya wajar, belum mengerti maksudnya memakai jilbab karena memang pengetahuan agamanya yang masih minim.
Saat mata pelajaran olah raga dan fashion show peragaan busana atau latihan catwalk, Marwah masih lepas jilbab. Semua siswa mengikuti latihan catwalk, latihan berjalan di atas stage peragaan busana.

INT. AULA - DAY

Pak Amin
"Selamat siang semuanya, ayo kita mulai saja latihan catwalk hari ini kita akan latihan fashion show untuk busana gala premiere." 
(semua siswa sudah bersiap di atas stage dan sebagian di backstage dan masing-masing siswa harus menggunakan high heels)

 






                Pada malam hari seperti biasanya Marwah dikamar mendengarkan radio sambil belajar bahasa Inggris, mempelajari buku Grammer practice for learning English. Meskipun Marwah sudah tidak menempuh pendidikan namun tetap belajar sambil mendengarkan tausyah Aa’ Gym di “Management Qolbu”. Dengan mendengarkan ceramah Aa’ Gym diradio Marwah banyak sekali mendapatkan ilmu agama dan merasa lebih tenang menjalani hidup. Marwah semakin menemukan jati dirinya yang sesungguhnya dengan menjadi muslimah yang sabar dan lemah lembut. Marwah mencatat beberapa point penting dari tausyah yang didengarkan melalui radio. Sekitar kurang lebih jam 01.00 WIB Marwah segera tidur lagi karena sudah larut malam menjelang pagi.
INT.KAMAR MARWAH-MALAM
Marwah
(tidur nyenyak dan tak mendengar adzan subuh, tiba-tiba tempat tidur terasa bergetar perlahan dan semakin kuat getarannya mencapai kurang lebih 6 skala richter pada pukul 05.55 WIB, hari Sabtu,27 Mei 2006, Marwah berlari kedepan bersama keluarga, kepala Marwah tertimpa reruntuhan bangunan sehingga rambut Marwah berwarna putih oleh reruntuhan).
Ibu
”Ya Alloh, gempa ini ayo lari keluar.”
Martin
(membopong bayinya yang masih berusia 5 bulan)
Bapak
”Marwah mana ayo keluar semua.”
(bapak diposisi paling belakang memastikan semua anggota keluarga sudah keluar semua)

Semua anggota keluarga sudah sampai didepan teras rumah tapi langkah untuk berlari semakin berat dan limbung oleh getaran gempa yang semakin kuat dan dahsyat. Marwah dan Martin juga Ibu sudah didepan, tapi bapak melihat teras rumah yang akan roboh dan sekuat tenaga bapak berlari kedepan mendorong badan Marwah agar tidak terkena robohan bangunan. Seketika gubrak dunia seperti sudah kiamat, keadaan hening, gelap gulita, Marwah merasa tak ada kehidupan lagi. Perlahan Marwah tersadar masih hidup berkumpul bersama keluarga.
EXT.DEPAN TERAS RUMAH-PAGI
Marwah
          ”Allohuakbar, Ya Alloh.”
(Marwah terbangun dari pingsan sejenak dan melihat  bapak tertimp beton teras rumah, tubuhnya semakin bergetar dan bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan bapaknya)
Martin
(bayi berumur 5 bulan  yang dibopongnya terlempar ke konblok, dan Martin segera berlari mengambil bayinya yang menangis dan bayinya masih hidup tidak ada luka sedikitpun)
Bapak
”Allohuakbar, Allohuakbar, Allohuakbar. “
(sambil menahan rasa sakit setelah sadar kaki bapak tertimpa bangunan)

Setelah para tetangga menolong dan berhasil mengeluarkan bapak dari reruntuhan bangunan dan segera melarikan ke rumah sakit.
EXT.DEPAN TERAS RUMAH
Marwah
(Membopong bapak untuk dievakuasi sebelum dilarikan kerumah sakit, membopong pas kaki yang patah tertimpa beton, tubuh Marwah gemeteran melihat darah dan keadaan kaki yang patah)
Tetangga
“Ayo kita bawa kerumah sakit segera”.
(para tetangga yang membantu Marwah membopong bapak, menaikkan ke mobil bak terbuka dan segera dilarikan kerumah sakit Bethesda, hanya adik laki-laki dan kakak perempuan bapak yang mengantar kerumah sakit)
Marwah
“Bapak dibawa kerumah sakit dulu nanti aku menyusul”.
(Marwah bingung mau ikut mengantar kerumah sakit tapi cuma mengenakan daster untuk tidur yang transparan)
Marwah memberanikan diri untuk masuk kerumah yang sudah hampir runtuh,berganti pakaian sambil membawa uang yang tersisa didompet untuk mengurus biaya administrasi rumah sakit. Karena Marwah anak yang paling besar dan sudah bekerja jadi semua menjadi tanggung jawab Marwah.  Marwah tidak tahu kalau biaya rumah sakit pada saat bencana gratis dan ditanggung oleh pemerintah. Setelah berganti pakaian Marwah bermaksud mencari saudara atau tetangga yang mau mengantarkan ke rumah sakit menyusul bapak, tapi tiba-tiba para warga berlarian dan berteriak “ada sunami”.
EXT.DISAMPING RERUNTUHAN BANGUNAN RUMAH-PAGI
Marwah
(tengak-tengok mencari seseorang untuk mengantarkannya kerumah sakit menyusul bapak)
Para warga
“Sunami, sunami, sunami,.......”
(para warga berlarian menuju gunung, kedataran yang lebih tinggi)
Marwah
(bingung tetap diam ditempat, mau tetap menyusul bapak atau ikut lari ke gunung)
Mbak Parjiyem
“Ayo kita lari ke gunung, ada sunami.”
Marwah
“Tapi aku mau menyusul bapakku kerumah sakit”.
Ani
“Ayo mbak kita ikut lari ke gunung saja, nanti klo ada sunami gimana.”
Marwah
(akhirnya Marwah ikut lari ke gunung tapi fikirannya tetap kalut ingin menyusul bapak kerumah sakit)
Setelah beberapa menit dan ternyata tidak terjadi apa-apa, Marwah memutuskan untuk turun gunung dan ingin menyusul bapak ke rumah sakit. Marwah mencari seseorang untuk mengantarkan kerumah sakit, tapi tidak ada kendaraan karena semua kendaraan tertimbun reruntuhan bangunan.
FADE TO BLACK
INT.RUMAH SAKIT BETHESDA-PAGI
Adik laki-laki Marwah
(memangku bapak yang dalam perawatan)
Bapak
(menahan rasa sakit dan menghembuskan nafas terakhir dipangkuan adik laki-laki Marwah di rumah sakit Bethesda)
FADE TO BLACK
Tapi apa boleh buat jika Alloh sudah berkehendak nyawa bapak tidak tertolong dan meninggal dunia pada pukul 10.00 WIB. Hari itu juga jenazah dikuburkan dengan layak seperti jenazah pada umumnya dimandikan dan dikafani juga disholatkan.

EXT.HALAMAN RUMAH-PAGI
Marwah
“Mas, anterin saya kerumah sakit menyusul bapakku.”
Tetangga Marwah
“Sini tak beritahu tapi tenang ya.”
Marwah
“Ada apa.”
Tetangga Marwah
“Bapakmu sudah tenang menghadap Illahi.”
Marwah
“Inna lillahi wainna illaihi raji’un,”
(perlahan Marwah terisak menangis dan air mata tak terbendung lagi)
Tetangga
“Tenang mbak Marwah, bapakmu sudah tenang, ditunggu saja segera akan dibawa pulang jenazahnya”.

Para tetangga segera mempersiapkan air untuk memandikan jenazah, dan Marwah pun ikut menimba air mempersiapkan untuk memandikan jenazah bapak. Tapi beberapa tetangga menyarankan untuk duduk saja sambil menunggu kedatangan jenazah bapak. Marwah duduk termenung menunggu kedatangan jenazah bapak dan menyesal yang sangat dalam tidak bisa mendampingi bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Sejenak terdengar mobil ambulance datang membawa jenazah bapak. Para tetangga segera menyambut kedatangan jenazah dan mengangkatnya untuk diletakkan dipembaringan sebelum dimandikan.
Marwah
“Bapak........”
(berlari menghampiri jenazah bapak sambil menangis dan ingin membuka kain yang menutup wajah jenazah bapak, tapi ada seorang saudara Marwah yang tidak membolehkan Marwah membuka kain tersebut karena Marwah menangis)
Mas Ris
“Ayo ikut aku, gak usah melihat bapakmu, bapakmu sudah tenang”.
(sambil membawa Marwah ke keluarga yang lainnya berkumpul)
Marwah
(tetap menangis berlinangan air mata, kepalanya semakin terasa berat dan gelap menahan kesedihan dan penyesalan yang dalam)
FADE TO BLACK

Jenazah segera dimandikan dan dikafani, setelah itu adik laki-laki Marwah beserta beberapa warga menyolatkan jenazah lalu menguburkan jenazah bapak dipemakaman warga kampung Tirto. Setelah selesai pemakaman getaran gempa masih terasa berkali-kali dan berita sunami masih terdengar yang membuat bingung para warga. Malam harinya Marwah bersama ibu dan adik perempuannya juga bayi berumur 5 bulan naik kegunung untuk menyelamatkan diri. Pagi harinya bapak Marwah dikubur dan malam harinya Marwah beserta keluarga dan beberapa warga tidur di atas gunung dekat bapak Marwah dikubur.Dengan hiruk pikuk isu sunami, bahkan Marwah lupa kalau bapaknya sudah meninggal danbaru saja dikubur.
Marwah
“Bu, lha bapak kemana kok gak bersama kita”.
Ibu
“Kamu lupa ya, bapakmu sudah meninggal tadi pagi sudah dikubur.”
Marwah
“Oh iya,Ya Alloh, cobaan apa ini”.

Pagi harinya para warga yang mengungsi ke gunung diminta untuk turun dan mendirikan tenda di tanah lapang sekitar rumah, agar pemerintah mudah untuk mengecek dan memberikan bantuan. Pagi hari itu Marwah datang kepemakaman bapak.
Marwah
“Bu, aku mau lihat kuburan bapak”
Ibu
“Ya sana, Ani tolong ditemani mbak Marwah ke kuburan bapaknya”.
Ani
“Ya, mbah Ros, Ayo mbak Marwah tak temeni klo mau lihat kuburan bapakmu.”
Marwah dan Ani segera menuju ke pemakaman tempat jenazah bapak Marwah kemarin dikuburkan. Hari itu Marwah sudah tidak menangis lagi, sudah mengikhlaskan bapak menghadap Illahi dan mendoakan semoga khusnul khotimah, aamiin.
Setelah beberapa hari semua warga tidur ditenda dan akomodasi kebutuhan hidup bergantung dari bantuan pemerintah dan masyarakat luar kota yang peduli bencana. Setelah beberapa minggu tidur di tenda, ABRI bergerak membantu warga membereskan dan membersihkan reruntuhan bangunan serta membuatkan gubuk kecil untuk tinggal sementara dengan menggunakan seng dan triplek bantuan dari luar negeri. Rumah keluarga Marwah yang begitu luas dan besar masih berdiri pada bangunan inti, bagian teras dan belakang sudah roboh semua. Meskipun bangunan masih berdiri tapi sudah rapuh tak dapat dihuni lagi, semua dinding sudah retak dan hancur. Bangunan masih berdiri karena ditopang kuat oleh usuk yang terbuat dari bambu yang sangat kuat. Dengan begitu mau tidak mau bangunan harus dirobohkan, karena sangat membahayakan. Saat Marwah dan keluarga tinggal digubuk kecil yang dibangun oleh para relawan, keluarga orang tua asuh Marwah datang menengok keadaan keluarga Marwah. Keluarga Pak Annar dan Bu Annar mengetahui berita bencana gempa melalui siaran langsung di televisi, dan disitu tertera para korban bencana. Salah satu anggota keluarga Bu Annar ada yang membaca bahwa nama bapak Marwah tercantum disitu. Beberapa hari kemudian keluarga Bu Annar di Purworejo datang ke Bantul menengok keluarga Marwah. Bu Annar dan keluarga  datang dengan mobil kijang yang dipenuhi dengan bahan makanan berupa beras dan kebutuhan lainnya.
Bu Annar             :”Assalamu’alaikum, Marwah mana ya.”
Marwah               :”Wa’alaikumussalam, ini saya bu.’
Bu Annar             :”Gimana keadaanmu Marwah.”
Marwah               :”Alhamdulillah sehat bu, tapi ya begini keadaan rumah.”
Bu Annar             :”Ya saya sudah tahu, ini saya bawakan beras dan kebutuhan lainnya. Ada 2 karung beras, 2 kardus sarimi, dan kebutuhan lain semuanya dua bagian. Silahkan yang satu bagian untuk keluargamu dan yang satu bagian lagi untuk dibagikan diposko”.
Marwah               :”Iya bu, nanti yang sebagian bantuan ini akan saya serahkan ke posko. Terimakasih banget ya bu sudah datang menengok Marwah dan malah merepotkanbawa bantuan segala.”
Bu Annar             :”Gak apa-apa Marwah sudah jadi kewajiban Ibu untuk saling berbagi dan menolong.”
Marwah               :”Semoga kebaikan ibu Alloh yang membalasnya dan menjadi berkah, aamiin”.
Bu Annar             :”Marwah ibu langsung pamitan pulang, ibu sudah lega bisa melihat keadaanmu baik-baik saja. Ini ibu langsung mau mampir ke Sleman nengok rumah yang ada di Sleman.”
Marwah               :”Ya terima kasih bu.”
BuAnnar              :”Wassalamu’alaikum.”
Marwah               :”Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.”
Marwah anak pertama dari tiga bersaudara dan kedua adiknya sudah memiliki anak, saudara yang kedua memiliki tiga anak dan yang bungsu memiliki dua anak perempuan semua, sehingga Marwah memiliki 5 keponakan dari kedua adiknya. Setelah bertahun-tahun tidak menempuh pendidikan dan lebih asyik bekerja ke luar negeri dan di kota metropolitan akhirnya Marwah pulang ke Jogja dan melanjutkan untuk study lagi. Dari dahulu Marwah pengen sekali capable berbahasa Inggris, sehingga Marwah memutuskan untuk kuliah dengan jurusan Bahasa Inggris yang dipadu dengan sinematografi.


1.       TALENT MARWAH USIA SD UP TO SMP OLEH ZAHRA, TOMBOY NYA DAPET.

 



2.       TALENT MARWAH USIA SMK UP TO 19 TAHUN DI MALAYSIA, MARWAH CANTIK DAN FEMINIM

3.       TALENT MARWAH USIA 20 UP TO 23 TAHUN DI BEKASI, TALENT AKTUAL USIA 20 ATAU 23 TAHUN TIDAK BERHIJAB, RAMBUT SEPUNGGUNG.


4.       10 TAHUN KEMUDIAN TALENT MARWAH USIA 30 UP TO 36 TAHUN, STELAH MENJADI MAHASISWI DIPERANKAN OLEH SAYA SENDIRI MARWANTI MARWAHQUROTAAYUN.



5.       MARWAH REALY MARWANTI MARWAHQUROTAAYUN, USIA 36 TAHUN SEDANG MENCARI PEKERJAAN DI SEKOLAH SEBAGAI STAFF TATA USAHA DI SEKOLAH SAMBIL MENGAJAR LES BAHASA INGGRIS.
PENGEN NIKAH DAN DILAMAR SEORANG LAKI-LAKI YANG CAKEP LUAR DALAM (KULIT PUTIH BERSIH, TINGGI GAGAH) BAIK AKHLAKNYA, AGAMANYA DAN BERPENDIDIKAN, BERTANGGUNGJAWAB MENAFKAHI LAHIR BATIN SEBAGAI SUAMI, SAYANG, PERHATIAN DAN JUJUR.

 

SCREENPLAY FILM INI HANYA SEBAGIAN BELUM SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mutiara Qolbu Books Collection Written by Marwahqurotaayun. M

Marwahqurotaayun Books Collection of Mutiara Qolbu that written by myself has printed and this is Master of printed. 1.This is the ...